Pengalaman Pribadi Nida Mufidah Haura Ketika Gundah Berubah Menjadi Alhamdulillah

Pengalaman pribadi Nida Nufidah Haura – Halo, namaku Nida Mufidah Haura. Aku lahir dan tinggal di Kota Depok, Jawa Barat. Tapi sekarang aku sedang merantau ke Surabaya. Aseekk, merantau! Aku baru lulus SMA dan sekarang melanjutkan pendidikan di Mandiri Entrepreneur Center (MEC) yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Yang belum tahu MEC, nih aku kasih tahu ya. MEC adalah Lembaga Kursus Pelatihan (LKP) vokasi selama satu tahun yang menyediakan beasiswa penuh, 100% gratis, untuk melatih kemandirian anak-anak yatim dan yatim piatu lulusan SMA/SMK sederajat agar siap kerja atau berwirausaha. Program unggulan ini dikelola di bawah naungan LAZNAS Yatim Mandiri.

Di sini saya mendalami dan mencoba mengembangkan beberapa hal:

  • Soft skill: mengasah kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan komunikasi.
  • Keislaman: pembiasaan akhlak, ibadah, dan etika kerja Islami.
  • Hard skill: penguasaan keahlian teknis sesuai kebutuhan industri.

Di sini ada tiga jurusan yang tentunya sangat diminati kebanyakan orang, yaitu Akuntansi, Bisnis Digital, dan Desain Grafis. Aku mengambil jurusan Bisnis Digital karena aku punya cita-cita ingin jadi pengusaha besar, hehe. Maka dari itu, aku bersyukur bisa ada di tempat ini karena selain jurusannya sesuai dengan keinginanku, tempatnya juga nyaman banget. Ditambah para dosen, kakak-kakak mentor, dan teman-teman yang baik-baik banget dan asyik. Seru lah pokoknya.

Aku sangat bersyukur bisa berada di tempat ini. Beribu Alhamdulillah selalu terucap setiap harinya.

Tapi, siapa sangka, perjalanan titik ini dimulai dari begitu banyak  kebingungan?

Aku sudah beberapa kali jatuh, lalu bangkit, dan jatuh lagi. Aku tetap berjalan meskipun dengan cara merangkak. Sempat berdiri di persimpangan, dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama baik, sampai berkali-kali bertanya dalam hati: “Mana yang benar-benar untukku?”

Oke, aku mau sedikit cerita.

Awal masa SMP

Awal putih biru yg isinya keterpaksaan dan kebahagiaan palsu
foto masa SMP Nida

Setelah lulus SD, aku punya satu impian besar, yaitu mondok. Aku ingin memperbaiki diri dan menjadi muslimah yang lebih syar’i.

Aku mendaftar ke beberapa pondok dengan penuh harapan. Sayangnya, satu per satu aku tidak lolos berkas. Aku kecewa sekali. Rasanya duniaku runtuh karena aku benar-benar tidak mau sekolah biasa.

Tapi akhirnya Bunda mendaftarkanku ke sekolah umum. Awalnya aku menerima dengan sangat terpaksa. Karena kecewa, aku jadi malas mengerjakan tugas. Guru-guru sering menghubungiku karena tugas yang menumpuk.

Sampai akhirnya aku sadar, sikapku ini salah.

Kekecewaanku bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Sejak saat itu aku memutuskan untuk berubah lagi. Aku mulai mengerjakan tugas, belajar lebih rajin, dan berusaha menjadi murid yang baik. Aku sadar, mungkin jalanku memang tidak selalu sesuai keinginanku. Tapi selama aku terus berusaha, terus berdoa, dan tidak menyerah, selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada diriku yang kemarin.

Putih Biru Yang Rapuh

ilusi keadaan saat masa SMP
ilusi keadaan saat masa SMP

Masa SMP-ku sebenarnya berjalan cukup lancar. Aku menikmati hari-hari sekolah seperti teman-teman yang lain.

Hingga akhirnya, saat kelas 8 semester 2, sekolah mengadakan study tour ke Jogja. Semua teman di angkatanku heboh membicarakan perjalanan itu. Biayanya Rp1,9 juta.

Dari awal aku sudah tahu, rasanya Bunda tidak akan sanggup membayarnya. Meski begitu, di dalam hati aku masih berharap ada keajaiban.

Ternyata dugaanku benar.

Kami memang tidak punya uang sebanyak itu. Aku akhirnya tidak ikut study tour.

Yang paling menyakitkan bukan karena tidak bisa pergi ke Jogja, tetapi karena hanya aku yang tidak ikut. Dari satu angkatan, sepuluh kelas, dan ratusan siswa, hanya aku yang tinggal.

Rasanya malu, sedih, iri, semuanya bercampur jadi satu. Setelah itu semangat belajarku mulai berantakan lagi. Aku sering melamun dan kehilangan motivasi.

Melihat aku terus murung, Bunda mengajakku jalan-jalan ke Kota Tua sebagai penggantinya.

Jujur saja, aku sudah bosan dengan tempat itu. Aku sering ke sana. Tapi hari itu aku sadar satu hal.

Bunda memang tidak bisa memberiku perjalanan ke Jogja, tetapi beliau tetap berusaha untuk tersenyum dengan apa yang beliau mampu.

Aku akhirnya menikmati hari itu, bukan karena tempatnya, tapi karena aku tahu ada kasih sayang yang sedang diperjuangkan.

Perjuangan untuk Mondok

ilusi anak remaja yang sedih saat berbincang dengan sang kakek
ilusi anak remaja yang sedih saat berbincang dengan sang kakek

Saat kelas 9, aku mulai memikirkan masa depanku. Kali ini aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus memperjuangkan keinginanku.

Aku ingin masuk pesantren.

Setelah mencari informasi, saya menemukan tiga pesantren yang menurutku cocok. Saya langsung mendaftar ke salah satunya. Prosesnya tidak mudah, ada beberapa tahap yang harus diselesaikan.

Ketika akhirnya dinyatakan lolos, rasanya aku ingin menangis karena bahagia. Aku benar-benar bersyukur.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Kakekku tidak setuju. Beliau ingin aku masuk ke MAN saja. Alasannya sederhana. Menurut beliau, sekolah di MAN lebih dekat dari rumah, lebih jelas jenjang pendidikannya, dan beliau khawatir saya tidak kuat hidup jauh dari keluarga.

Mendengar itu aku langsung menangis.

Bukan karena MAN adalah sekolah yang buruk, tetapi karena untuk pertama kalinya aku merasa sudah berjuang mengejar impianku, lalu mimpi itu seperti ingin diambil begitu saja.

Aku tetap bersemayam.

Ini pilihanku. Ini pendidikanku. Aku ingin belajar di pesantren, bukan karena siapa pun yang memaksa, tapi karena memang itu yang aku inginkan.

Setelah banyak berbicara dan menjelaskan alasanku, akhirnya Kakek luluh. Beliau mengizinkanku mondok.

Hari itu aku merasa perjuanganku benar-benar terbayar.

Kenyataan di Pesantren yang Tidak Sesuai Bayangan

ilusi gambar remaja perempuan tidak beta dipondok
ilusi gambar remaja perempuan tidak beta dipondok

 

Sayangnya, kenyataan di pesantren tidak seindah bayanganku.

Baru beberapa hari tinggal di sana, saya merasa tidak beta. Lingkungannya sangat tidak bersih, sementara aku adalah orang yang sangat peka terhadap kebersihan. Hal-hal kecil yang mungkin biasa bagi orang lain justru sangat menggangguku.

Aku mulai merasa tertekan.

Yang membuat keadaan semakin buruk, di pesantren itu ada aturan bahwa santri yang sudah masuk tidak boleh keluar kecuali menjemput orang tua. Kami juga tidak boleh membawa HP.

Aku benar-benar merasa tertekan.

Aku ingin memberi tahu Bunda kalau aku tidak beta, tapi aku tidak punya cara. Sampai suatu hari, saya sempat berpikir untuk berkemah. Rasanya satu-satunya jalan agar bisa pulang.

Namun, ada cerita yang sudah lama beredar di pesantren.

Katanya, siapa pun yang tidak kabur akan mengalami kecelakaan di jalan, bahkan ada yang tidak selamat sampai rumah. Entah itu benar atau hanya mitos, cerita itu terus terngiang di kepalaku.

Rasa takut akhirnya mengalahkan keinginanku untuk kabur.

Aku hanya berharap segera ada jalan keluar.

Awalnya aku pikir mondok bakal jadi pengalaman baru yang seru. Bisa punya banyak teman, belajar agama lebih dalam, dan hidup lebih mandiri.

Tapi kenyataannya jauh dari bayanganku.

Di sana kegiatannya padat banget. Dari pagi sampai malam hampir tidak ada waktu untuk istirahat. Orang-orangnya juga banyak.

Yang bikin aku kaget, ternyata banyak banget yang suka ambil barang orang lain kalau pemiliknya nggak ada.

Sebagai anak baru, saya sama sekali tidak menyangka kalau orang-orang bisa seberani itu.

Berkali-kali barangku hilang. Aku bahkan sering berantem cuma buat ngerebut barangku sendiri. Capeknya enak banget.

Aku datang untuk belajar, bukan membuat ribut terus setiap hari.

Ketika Tubuh Dititik Lelahnya

ilusi remaja kelewat lelah
ilusi remaja kelewat lelah

Lama-lama aku mulai muak.

Gimana aku bisa belajar dengan tenang kalau tiap hari harus waspada sama barang sendiri?

Badanku juga mulai ngedrop. Aku sering mimisan, kepala pusing, badan lemas, tapi tetap disuruh ikut semua kegiatan.

Pengurus tidak ada yang benar-benar peduli kalau aku lagi sakit. Yang mengurusku malah teman-temanku.

Aku cuma pengen pulang.

Sudah enam kali aku bilang ke ustazah kalau aku nggak sanggup lagi dan ingin pulang. Tapi setiap kali aku ngomong itu, nggak digubris.

Sampai akhirnya, di hari itu, emosiku benar-benar meledak.

“SAYA GK KUAT USTAZAH! SEENGGAKNYA KALAU SAYA GK BOLEH KELUAR… SAYA DIIZININ ISTIRAHAT DI UKS. SAYA UDAH GK KUAT!”

Ustazahku langsung kaget. Wajahnya berubah, lalu membalas dengan nada tinggi.

“Ya sudah, kamu istirahat sana! Terserah kamu mau ngapain. Jangan dikit-dikit mau keluar!”

Tanpa bilang apa-apa lagi aku langsung jalan ke UKS sambil menghentak-hentakkan kaki karena kesal.

Bukan hanya aku yang merasa tidak beta. Banyak temanku juga ingin pulang. Kami sering nangis bareng, saling cerita, saling menguatkan, meski dalam hati sama-sama merasa putus asa.

“Kayaknya kita nggak bakal bisa keluar dari tempat ini,” kataku setiap hari dengan putus asa.

Jalan Keluar Diluar Nalar

ilusi remaja kelewat lelah

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba temanku yang sering denganku dipanggil.

Ternyata dia dijemput orang tuanya.

Aku langsung lari mendekati teman-teman lain dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Barulah aku tahu kalau dia telah menjalankan rencana yang benar-benar di luar nalar.

Diam-diam dia menulis surat untuk orang tuanya. Di dalam surat itu dia meminta dijemput dan mencantumkan nomor telepon orang tuanya.

Surat itu dia titipkan kepada seorang tukang yang sedang bekerja di sekolah.

Awalnya temanku itu ragu karena takut melaporkan ke ustazah.

Tapi mungkin inilah jalannya.

Allah Maha Baik, kan?

Setelah membaca surat bapak itu, tukang tersebut akhirnya menghubungi orang tua temanku. Esok harinya, orang tua temanku langsung datang menjemput.

Mendengar kabar itu, aku ikut bahagia.

Temanku yang sudah keluar ternyata benar-benar menepati janjinya. Sesampainya di rumah, dia langsung menghubungi orang tuaku dan menceritakan keadaanku.

Keesokan harinya, orang tuaku datang dengan wajah penuh kekhawatiran.

Saat melihat mereka, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Rasanya seperti baru saja bebas dari tempat yang selama ini bikin stres.

Aku pulang dalam keadaan demam. Lambungku juga terasa perih karena terlalu sering kehilangan nafsu makan dan kelelahan.

Sepanjang perjalanan, aku menceritakan semua kejadian itu kepada Bundaku.

Menyesal

Anak perempuan yang sedang berpikir
Anak perempuan yang sedang berpikir

Di dalam mobil, aku memikirkan dan menyesali sikapku dulu.

Aku teringat bagaimana Kakek pernah melarangku mondok, tapi aku tetap keras kepala dan yakin dengan pilihanku.

“Seandainya waktu itu aku nurut… Andai aku mendengarkan Kakekku, pasti nanti di rumah Kakek marah…”

Aku juga bingung nanti akan melanjutkan ke mana karena di sini sekolah negeri sudah tutup, sedangkan swasta mahal dan Bunda nggak akan sanggup.

Sesampainya di rumah, ternyata Kakek tidak marah sama sekali.

Tuan malah menenangkan aku.

“Nggak apa-apa. Yang penting sekarang kamu sudah pulang. Nanti kita carikan sekolah yang terbaik buat kamu.”

Mendengarnya, hatiku terasa jauh lebih tenang.

“Oke, kali ini aku bakal nurut.”

Selama tiga hari di rumah, aku dan Bunda sibuk mencari SMK negeri yang murah dan letaknya cukup dekat dari rumah.

Akhirnya Bunda menemukan satu sekolah.

Sayangnya, bidang yang tersedia sama sekali bukan bidang yang aku minati. Aku menolaknya sambil menjelaskan alasanku.

Bunda mengerti. Tapi beliau juga bilang kalau hampir semua sekolah lain sudah menutup pendaftaran.

“Kalau nggak, sekolahnya ditunda setahun aja?”

Mendengar kalimat itu, pundakku langsung terasa lemas.

Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku benar-benar bingung harus memilih jalan yang mana.

Awalnya aku dapat kabar dari temanku kalau ada pondok pesantren yang katanya lebih bagus. Yang bikin aku makin tertarik, ternyata pondok itu masih satu yayasan dengan pondok adikku.

Dari situ aku mulai kepikiran buat pindah dan mondok di sana.

Orang tuaku sempat ragu karena mereka takut aku tidak betah lagi seperti sebelumnya. Aku terus meyakinkan mereka kalau aku benar-benar yakin akan brtah ditempat itu.

Setelah banyak ngobrol, akhirnya mereka mengizinkan.

Pondok itu berada di Desa Banyu Asih, Kecamatan Mauk, Tangerang.

Ternyata keputusanku tidak salah.

Aku benar-benar betah dan merasa nyaman. Buatku, tempat itu adalah pondok terbaik yang pernah aku rasakan.

 kekuranganya hanyalah lokasinya yang jauh banget dari rumah.

Meski begitu, tiga tahun di sana berjalan lancar sampai akhirnya hari kelulusan tiba.

Di Persimpangan Jalan

ilusi gambar sedang berada dipersimpangan jalan kehidupan
ilusi gambar berada di persimpangan jalan

Setelah lulus, pikiranku mulai terpenuhi pertanyaan:

“Kuliah di mana, ya?”

Sebenarnya aku sangat ingin masuk UI karena lokasinya paling dekat dengan rumah.

Sayangnya, aku ketinggalan kesempatan ikut tes SNBT.

Bunda bilang nggak apa-apa kalau akhirnya masuk kampus swasta, yang penting bisa dapat beasiswa.

Untungnya, ada salah satu pengurus pesantren yang sangat peduli sama masa depan aku dan teman-temanku. Beliau sering mengirimkan informasi beasiswa dan kampus dengan biaya terjangkau.

Aku mencoba mendaftar ke banyak tempat, tapi proses ribet dan biaya pendaftarannya juga lumayan mahal.

Di sela-sela informasi yang beliau kirim, saya menemukan beasiswa pendidikan gratis 100% dari Mandiri Entrepreneur Center (MEC) dengan tiga jurusan unggulan: Akuntansi, Bisnis Digital, dan Desain Grafis.

Karena tertarik dengan Bisnis Digital dan programnya yang Islami, saya langsung mendaftar.

Hanya saja, MEC memakai sistem asrama.

Sejujurnya, aku sudah bosan hidup berasrama.

Di tengah perjuanganku, aku akhirnya diterima di Universitas Trisakti melalui jalur beasiswa.

Aku bersyukur banget, tapi saat datang ke sana untuk wawancara aku malah merasa minder.

Banyak calon mahasiswa yang sudah pintar dan jago public speaking.

Aku sempat berpikir:

“Apa ngambil MEC aja ya? Di sana kemampuan public speaking dan keberanian benar-benar dibor dari 0.”

Namun, aku mengurungkan niat itu karena lulusan MEC tidak mendapatkan gelar S1, sementara penetapan gelar sarjana sangat penting.

Akhirnya aku memutuskan membatalkan MEC.

Teman-temanku mengucapkan selamat karena aku lolos di Universitas Trisakti.

Harusnya aku senang.

Tapi jauh di dalam hati, entah kenapa aku sangat bimbang.

Aku sudah membayangkan betapa nyamannya aku di sana dengan lingkungan yang Islami.

Aku sempat bingung banget antara memilih melanjutkan pendaftaran kuliah di Universitas Trisakti atau berangkat ke Mandiri Entrepreneur Center (MEC).

Dua-duanya sama-sama gratis, jadi bukan soal biaya.

Bedanya, di Trisakti aku bakal fokus belajar teori dan kehidupan kampus seperti mahasiswa pada umumnya. Sementara di MEC, pembelajarannya lebih banyak praktik, pengembangan karakter, kepemimpinan, dan kewirausahaan dengan sistem asrama yang lebih disiplin.

Yang bikin aku makin panik, jadwal keberangkatan ke MEC tinggal hitungan hari, bahkan nggak sampai seminggu lagi.

Aku harus mengambil keputusan secepat mungkin.

Teman-temanku juga terus bertanya:

“Jadinya kamu ke mana?”

Aku cuma bisa menjawab:

“Masih bingung.”

Selama tiga malam berturut-turut aku melaksanakan salat istikharah.

Aku berdoa, meminta petunjuk, lalu berusaha pasrah dengan keputusan terbaik yang Allah berikan.

Anehnya, setiap hari hatiku semakin tergerak dan muncul keinginan yang sangat kuat untuk memilih MEC.

Akhirnya, dua hari sebelum keberangkatan, aku benar-benar memutuskan untuk berangkat ke MEC.

Kali ini Bunda tidak menentang keputusanku karena dia mengerti bahwa aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupku sendiri.

Aku langsung grasak-grusuk menyiapkan semua barang ke dalam koper.

Perjalanan Menuju MEC Surabaya

Sebelum berangkat ke MEC yang berlokasi di Surabaya, aku berkumpul terlebih dahulu di MEC Jakarta bersama teman-teman yang berasal dari wilayah yang berdekatan.

Kami berangkat naik bus sekitar pukul empat sore.

Perjalanan berlangsung kurang lebih empat belas jam.

Semalaman kami tidur di bus. Badan pegal, tetapi suasananya tetap menyenangkan.

Aku juga senang karena bisa berkenalan dengan teman-teman baru.

Akhirnya, haiii Kota Surabaya!

Setibanya di sana, kami langsung melakukan pendaftaran ulang, istirahat sejenak, lalu aku segera mandi sebelum memulai petualangan baruku.

Aku benar-benar bersemangat.

Bertemu Teman-Teman dari Berbagai Daerah

Foto Masa Orientasi Peserta Didik
foto MOPD

Setelah semua urusan hari pertama selesai, aku mulai berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah.

Ada yang berasal dari Padang, Lampung, Sumatera, Bogor, bahkan pribumi Jawa Timur dan masih banyak lagi.

Rasanya seru sekali mendengar logat mereka yang berbeda-beda.

Kami saling bertukar cerita tentang perjalanan menuju MEC dan alasan memilih datang ke sini.

Walaupun baru kenal, suasananya langsung terasa hangat seperti sudah berteman lama.

Saat waktu makan tiba, aku benar-benar dibuat kaget.

Dalam pikiranku, tempat yang semuanya gratis pasti menyediakan makanan seadanya.

Ternyata kenyataannya jauh dari bayanganku.

Makanannya banyak, lauknya beragam, sayurnya lengkap, dan rasanya juga enak.

Aku sampai berpikir:

“MasyaAllah, ini benar-benar gratis?”

Saat itu rasa syukur memenuhi hati.

Allah benar-benar mempertemukanku dengan tempat yang luar biasa.

Malam Pertama di Asrama

Malam pertama di MEC
Malam pertama di MEC

Malam harinya kami tidur bersama dalam satu kamar.

Awalnya mengira akan canggung karena belum saling mengenal, tapi ternyata tidak sama sekali.

Sebelum tidur, kami merenung panjang, saling bercerita tentang keluarga, sekolah, cita-cita, sampai pengalaman lucu masing-masing.

Tawa kami memenuhi kamar hingga akhirnya satu per satu tertidur karena kelelahan.

Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi suasananya masih cukup santai.

Baru pada hari Senin, kegiatan MOPD atau Masa Orientasi Peserta Didik Baru resmi dimulai.

Pengalaman Nida di MEC: Belajar, Bertumbuh, dan Berani Mencoba

Foto masak bersama
Foto masak bersama

Selama satu minggu penuh kami mengikuti berbagai kegiatan yang seru dan penuh tantangan.

Kami belajar disiplin, kerja sama, kepemimpinan, dan mengenal budaya yang ada di MEC.

Meski jadwalnya padat, semua kegiatan terasa menyenangkan karena dilakukan bersama teman-teman baru.

Hal yang paling berkesan selama di MEC adalah keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Kami tidak hanya belajar keterampilan untuk masa depan, tetapi juga dibiasakan menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Bagiku, keseimbangan inilah yang membuat MEC terasa berbeda.

Belajar Berwirausaha

Pengalaman pertama kali wirausaha
Pengalaman pertama kali wirausaha

Salah satu kegiatan favoritku adalah Entrepreneur.

Di MEC, Entrepreneur bukan sekadar belajar teori bisnis, tetapi langsung praktik di lapangan.

Kami ditantang untuk berpikir kreatif, mencari peluang, lalu menghasilkan keuntungan dengan modal yang sangat minim, bahkan tanpa modal pribadi.

Kami belajar bagaimana menawarkan produk, melayani pelanggan, mengatur keuangan, sampai menghasilkan hasil penjualan.

Dari kegiatan ini saya belajar bahwa keberanian memulai jauh lebih penting daripada menunggu semuanya sempurna.

Pengalaman Pertama Berjualan Kerupuk

Pengalaman pertamaku berjualan adalah menjual kerupuk.

Keuntungan yang kudapat memang masih kecil, namun rasanya luar biasa karena itu adalah uang pertama yang benar-benar kuhasilkan dari hasil usahaku sendiri.

Minggu berikutnya saya mencoba menjual roti.

Alhamdulillah hasilnya mulai meningkat dan keuntungannya lumayan.

Dari situ semangatku semakin bertambah.

Minggu ketiga, saya benar-benar mantap memilih berjualan roti.

Saat teman-teman lain selesai berjualan sekitar pukul dua siang, aku dan partnerku masih terus berjualan sampai sekitar pukul setengah enam sore.

Kami berkeliling menawarkan roti dengan penuh semangat.

Memang sangat melelahkan. Kaki pegal, badan capek, dan tenaga hampir habis.

Namun, semua rasa lelah itu terbayar ketika menghitung hasil penjualan.

Keuntungan yang kami dapatkan jauh lebih besar dari minggu-minggu sebelumnya.

Sesampainya di asrama, badanku langsung nggak enak. Mungkin karena terlalu lelah seharian berjualan.

Namun saat melihat uang hasil dagang tersebut, capeknya langsung hilang.

Aku memutuskan untuk menabungi seluruh hasil keuntungan itu.

Bagiku, uang tersebut bukan sekedar nominal, tetapi bukti bahwa keberanian mencoba, kerja keras, dan pantang menyerah akan selalu membawa hasil.

Bertumbuh Dan Berkembang

Di sini aku sangat berkembang.

Yang tadinya aku takut dan gemetar jika maju ke depan, kini aku mulai berani. Bahkan berani untuk presentasi, berpidato, dan public speaking lainnya.

Meskipun pendidikan di sini baru satu tahun, tempat ini sangat membawa perubahan baik bagi aku.

Tanpa sadar hatiku selalu mengucapkan Alhamdulillah yang sangat dalam.

Dari semua pengalaman di MEC, aku belajar bahwa keputusan yang dulu sempat membuat bimbang ternyata membawaku ke tempat yang mengajarkanku banyak hal.

Aku belajar mandiri, berani mengambil peluang, menghargai setiap proses, dan menyadari bahwa rezeki datang kepada mereka yang mau berusaha.

Bukan hanya ilmu untuk mencari penghasilan yang diperoleh, tetapi juga bekal keimanan dan karakter yang akan terus kubawa dalam menjalani kehidupan.

Rasa ragu yang dulu pernah ada terjawab sekarang.

Mungkin saat itu aku membatalkan ke sini, aku akan sangat menyesal karena menyia-nyiakan tempat terbaik dan sekeren ini.

Semua rasa ragu itu bukan untuk membuat berhenti, tapi untuk mengajarkanku percaya bahwa setiap proses akan menemukan rekamannya sendiri.

Ketika Gundah Berubah Menjadi Alhamdulillah

Foto ketika sedang jalan-jalan di MEC
Foto ketika sedang jalan-jalan di MEC

Hari ini, aku benar-benar bersyukur karena akhirnya menemukan pilihan yang terasa paling tepat. Kalau mengingat kembali semua perjalanan yang sudah kulewati, ternyata banyak hal yang awalnya terasa seperti kegagalan justru membawaku menuju sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku pernah kecewa karena tidak lolos pondok setelah SD. Aku pernah merasa malu dan sedih karena tidak bisa ikut study tour. Aku pernah memperjuangkan pesantren yang kuinginkan, tapi akhirnya justru tidak betah dan harus pulang. Aku pernah bingung mencari sekolah setelah itu. Aku  juga pernah berada di persimpangan antara Universitas Trisakti dan MEC.

Berkali-kali aku bertanya dalam hati, “Mana yang benar-benar untukku?”

Sekarang, setelah menjalani semua proses itu, aku mulai memahami bahwa tidak semua jalan yang kita inginkan harus langsung berjalan sesuai rencana.

Ada jalan yang membuat kami kecewa.

Ada jalan yang membuat kita menangis.

Ada jalan yang membuat kami menyesal.

Ada juga jalan yang membuat kita harus memilih dan benar-benar percaya kepada keputusan yang kita ambil.

Dan akhirnya, aku sampai di sini.

Di MEC, aku menemukan banyak hal yang sebelumnya aku cari. Aku belajar tentang kemandirian, keberanian, peluang, usaha, karakter, keimanan, dan bagaimana menjalani proses dengan lebih kuat.

Terima kasih atas semua doa, pertimbangan, dan proses yang tidak mudah.

Semoga langkah ini menjadi awal dari perjalanan yang membawa banyak ilmu, pengalaman, dan hal-hal baik yang sudah Tuhan siapkan🤍

Leave a Comment